Diabaikan dan merasa disepelekan itu adalah suatu perasaan yang kita terima ketika kita mengeluarkan pendapat yang menurut kita telah kita keluarkan dengan segenap jiwa dan kata-kata yang telah disusun rapi, tapi ternyata hal itu ditertawakan saja dengan spontan oleh lawan bicara kita bahkan dengan sikap yang acuh mereka mengatakan bahwa pendapat itu adalah pendapat yang tidak masuk akal (nonsens) dan bahkan tidak boleh diutarakan karena itu betul-betul pendapat yang hanya dikeluarkan oleh orang yang telah berpindah akal dan nuraninya serta dicap memiliki ganguan mental yang parah. Bagaimana perasaan kita dengan hal ini tentunya bukan hanya merasa disepelekan tetapi juga membuat kita merasa minder dan harus terus menutup mulut karena apapun yang akan kita katakan selalu merasa salah.
Psikologi atau sikap mental adalah sikap yang sangat rumit, entah ! mengapa tapi ini adalah suatu anugerah yang sangat brilian. Hal ini mungkin dikarenakan psikologi atau sikap mental antara pribadi yang satu berbeda dengan pribadi yang lain. Tanpa pendidikan yang formal ilmu psikologi dapat dikuasai meskipun tidak sempurna dikarenakan tidak ada sesuatu yang sempurna dimuka bumi ini. Mempelajari psikologi sangatlah menyenangkan ( menurut saya nih ! ) karena psikologi merupakan cara membaca sikap dan tingkah laku seseorang yang akan dilakukan oleh seseorang. Mungkin itulah penyebab bahwa psikologi membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajarinya
Pokok pangkal dari pada kerusakan diri menurut versi penulis terbagi atas tiga bagian yaitu
1. Pikiran :Karena semua orang menginginkan agar semua ide atau kebijaksanaan yang dikeluarkan olehnya haruslah diterima oleh orang lain. Sikap yang seperti ini adalah sikap yang ingin agar pribadinya di hargai, dan ingin mengendalikan pribadi yang lain agar merasa cocok dengannya.
2. Hati :Pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan semakin besar rasa yang di inginkankannya maka semakin kuat dorongan ke arah yang di inginkannnya. Semakin rusak hati sebuah pribadi semakin kacau jalan yang ditempuh dan semakin sesat dorongannya. Dan sebaliknya, semakin terkontrol hati sebuah pribadi jalan dan motivasi yang tempuh akan berjalan seperti air yang mengalir meskipun harus melalui batu-batu besar.
3. Perut :Persoalan yang paling besar, terkadang bisa membuat orang senang bukan kepalang, motivator untuk pencapaian obyektifitas dan terkadang kejam tanpa perikemanusiaan
Tentu saja akan ada yang tidak setuju dengan pikiran ini. Dan memang penulis tak mengharapkan persetujuan siapa pun. Sebaliknya siapa pun dapat mengemukakan pikirannya masing-masing, apalagi kalau yang bersangkutan tidak pernah diperlakukan seperti halnya pribadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar